Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2013

jangan pernah menyerah

Disuatu pagi yang indah, terlihat sekelompok burung elang yang beterbangan diatas sebuah sungai yang melintasi hutan disuatu perdesaan. Tampak mereka sedang mencari ikan-ikan kecil untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Dengan sigap satu persatu dari mereka menukik dan menangkap ikan-ikan kecil yang terlihat di permukaan sungai dan membawanya ke sarang mereka, yang terletak diatas pohon ditepi sungai tersebut. Lama kelamaan sarang mereka yang terbuat dari jerami, telah penuh dengan ikan-ikan kecil yang berlompat-lompat untuk menyelamatkan diri.
Setelah melompat-lompat sekian lama, muncul keputusasaan dari ikan-ikan kecil tersebut, karena tidak mampu melewati sarang sang elang yang telah memenjarakan mereka.
“Kita akan segera mati, dan menjadi santapan elang tersebut, tak ada gunanya kita berlompat-lompat teman-teman” Seru seekor ikan kecil yang keliatan kehabisan nafas
“Benar…matilah kita….tak mungkin kita bisa selamat lagi” Seru yang lain
Lama kelamaan ikan-ikan kecil tersebut, terlihat tidak melompat lagi dan sebagian dari mereka mati karena lemas dan kehabisan nafas. Mereka tidak berusaha lagi untuk keluar dari sarang burung elang tersebut, dan pasrah pada nasib buruk yang menimpa mereka. Padahal mereka sebenarnya menyadari bahwa dibawah sarang burung yang hanya terbuat dari jerami tersebut, terlintas sungai yang begitu luas yang merupakan tempat tinggal mereka
Hanya terlihat seekor ikan kecil yang tetap berlompat-lompat untuk melewati sarang burung elang tersebut, terlihat tubuhnya yang semakin lemas karena kehabisan nafas namun tekadnya yang keras, membuatnya terus melompatt-lompat. Ikan-ikan kecil yang lain hanya bisa melihatnya dan menasehatinya untuk pasrah dengan nasib.
Namun si ikan kecil terus melompat, pantang menyerah dan dengan sekuat tenaga dia pun melompat tinggi dan dia berhasil melewati sarang burung elang yang terbuat dari jerami dan jatuh menuju sungai yang luas….dan jadilah dia sebagai pemenang.
~Kadang hidup kita penuh dengan cobaan, rintangan, halangan, dan masalah yang selalu menghadangi kita, seakan-akan memaksa kita untuk menyerah. Namun sebagai seorang yang bijak, kita tidak boleh begitu saja menyerah pada nasib. Teruslah mencoba, karena sebenarnya kesuksesan selalu berada didepan kegagalan kita, hanya tekad dan sikap pantang menyerahlah yang dapat memberikan jalan bagi kita untuk mencapai kesuksesan sejati. Jangan pernah menyerah…….~

perisai cinta

Anda dapat menjalani kehidupan yang menyenangkan dan selama-lamanya terlindung dari segala marabahaya; demikianlah caranya Anda menjadi kekuatan positif ketika keadaan kelimpahan dan keselarasan tertarik kepada Anda.
Charles Haanel, Pengarang New Thought 1866-1949
Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Emma Curtiss Hopkins, penulis Resume, diceritakan tentang kejadian ajaib yang tercatat dalam arsip Institusi hukum Negara bagian Amerika. Artikel itu menceritakan tentang kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, mengenai seorang pria yang telah melakukan kejahatan pembunuhan dan dijatuhi vonis hukuman gantung.
Dalam selang waktu diantara penjatuhan hukuman dengan eksekusi pelaksanaannya, Ia mendapatkan pencerahan tentang kekuatan Cinta Tuhan, ia meyakini sepenuhnya bahwa Tuhan akan mengampuni dan membebaskannya.
Pada saat eksekusi dilakukan, para petugas menjadi bingung dan terkejut karena pria ini tidak bisa digantung, pada saat dibawa ke tiang gantungan, tempat pijakannya, yang seharusnya terjungkal dengan beban yang ringan sekalipun, menjadi kokoh ketika pria ini memijakkan kaki di atasnya. Mereka mencoba lagi berkali-kali dan terus tanpa hasil, akhirnya pria ini dibebaskan.
Kekuatan Cinta Kasih ternyata melampaui hukum tabur dan tuai. Tak peduli seberapa buruk pelanggaran, bisa dihapuskan dari pikiran beserta konsekuensi hukuman yang menyertainya. Rasa haus dan lapar yang besar akan Kasih dan Damai Tuhan, sangat berkuasa untuk menghapus semua hasil yang negative dan destruktif.
MENJADI TIDAK BISA DISAKITI
“Ketika seseorang teguh pantang menyakiti orang lain, semua mahluk hidup akan berhenti merasakan permusuhan di hadapannya.” Patanjali
Teguh menyangkal kekerasan dalam pikiran dan tindakan akan menciptakan suasana di mana semua kekerasan dan permusuhan sirna karena tidak berbalas. Pernyataan Patanjali “pantang menyakiti” ini mencakup bukan saja perbuatan nyata tetapi juga pikiran-pikiran iri, menghakimi, dan melukai dengan cara apa pun.
Memperoleh kesadaran untuk bersikap teguh pantang berpikiran buruk merupakan sarana ampuh untuk mengakses energy terbesar dan ampuh bagi penyelesaian masalah apapun.
Penyebabnya adalah mental dan hukum tarik-menarik. Kebanyakkan orang ketika membaca tentang kecelakaan kereta api, bencana alam, kejahatan perang, dan sebagainya, mereka akan berpikir bahwa semua itu terjadi karena factor kekuatan luar yang datang entah dari mana dan melukai orang-orang yang tidak bersalah sama sekali, tetapi kebenarannya adalah : kondisi mental dan bencana memiliki korelasi karena berasal dari frekuensi yang sama.
Tidak ada apapun yang terjadi kepada Anda apabila tidak sesuai dengan pemikiran terdalam dan dominan Anda, karena berdasarkan hukum tarik-menarik: semua kejadian apa pun datang kepada Anda karena ditarik secara magnetis oleh pikiran Anda. Pikiran Anda adalah energy yang akan menarik apa pun yang Anda fokuskan.
Pikiran tersebut tidak harus secara spesifik akan tetapi sejenis. Hanya ada dua jenis pemikiran yaitu Penyatuan dan Pemisahan. Cinta Kasih, Damai Sejahtera, Syukur, Sukacita berada dalam satu frekuensi (pikiran induk Penyatuan), sedangkan kebencian, rasa takut dan rasa bersalah berada dalam satu frekuensi (pikiran induk pemisahan). Silahkan Anda memilih mau berada pada frekuensi yang mana.
Orang yang berada dalam frekuensi pikiran induk penyatuan: Cinta Kasih, Damai Sejahtera, Syukur, dan Sukacita, akan dijauhkan dari pengalaman tidak menyenangkan yang bisa melukai atau mencederai, sebagaimana air dan minyak saling menolak. Berdasarkan hukum alam universal, pikiran dan perasaan Cinta Kasih yang mendalam, akan saling menolak dengan pengalaman yang tidak menyenangkan seperti bencana, kecelakaan, dan kejahatan. Percayalah akan kebenaran-kebenaran dari hukum alam ini, dengan memilih pikiran-pikiran induk penyatuan: Cinta KAsih, Damai Sejahtera, Syukur dan Cinta, Anda akan memiliki Perisai yang tidak terlihat sehingga terlepas dari segala kemalangan.

Ternyata, akupun pernah jadi Gayus…

Jaksa & Polisi: Saya tuh Berdosa Karena Kamu, Sih!
Membaca koran, menonton TV, mendengar “pembelaan diri” khususnya dari pihak Kejaksaan, pihak Kepolisian, serta pihak Penegak Hukum lainnya, benar-benar akan membuat kita sedih. Paling tidak, saya pribadilah yang sedih. Mengapa?
Pertama, saat ini manusia Indonesia yang bernama Gayus, sepertinya adalah penyebab kerusakan moral dan kebobrokan spiritual yang terjadi di dunia Hukum Indonesia. Gayus ini Bejat, Gayus itu Bangsat, Gayus memang Bajingan, Gayus si Bulus, Gayus tuh Anjing, Gayus itu Maling, Gayus Manusia Sampah dsb, dsb dan dsb… Hmmm… Benarkah demikian? Hati-hatilah… Satu jari menuduh ke orang lain, tiga jari menunjuk ke dalam diri dan si jempol menjadi saksi perbuatan ini, bukan?
Cepat sekali orang membela dirinya! Mudah sekali orang menghujat, memaki, mengutuk dan menilai… (sayapun masih sering demikian he he)
Kedua, bagaimana bisa para penegak hukum kita, khususnya kasus sekitar Gayus (artinya tidak semua orang ya…) mempunyai Mindset bahwa “Saya tuh Berdosa Karena Kamu, Sih”. Saya jadi ikut tergoda deh. Saya bisa jadi begini, karena ditawari “rejeki” sih. Saya tuh jujur, bisa lupa diri karena diajak Gayus. Singkatnya, kalo saya masuk neraka itu bukan karena kesalahan saya, lho. Itu, salahnya Setan yang menggoda saya. Lha, setan itu ciptaan Tuhan, berarti akhirnya Tuhan yang salah, dong?
Tujuan tulisan ini, hanya untuk bercermin diri. Minimal untuk saya sendiri. Saya tidak kenal siapa itu Cirrus Sinaga, siapa itu Gayus, siapa itu Kompor eh Kompol he he he…
Saya hanya ingin berkaca saja. Apakah saya adalah seorang yang…
Bertanggungjawab atas Pilihan Diri Sendiri
Atau saya masuk kelompok orang yang senang dengan kata “seandainya”. Contoh: Seandainya, kamu tidak menyogok saya, maka saya tidak akan dipecat. Seandainya saya tidak dipaksa oleh atasan, saya tidak akan terseret ke pengadilan.
Setuju sekali bahwa kita berada di dalam sebuah situasi, sebuah sistem, sebuah komunitas, sebuah Korps yang harus dibela. Namun, ingat. Untuk dibela dengan Benar, bukan dibela karena Kejahatan, karena Kebodohan, karena Persekongkolan atau istilahnya Mafioso.
Berat? Ya, memang. Hidup ini hanya pilihan, demi pilihan hidup saja, bukan? Saat, kita bisa memilih yang mana yang benar dan menolak mana yang salah, maka hidup kita akan terus melaju ke depan. Sederhana sekali.
Namun, bukan berarti manusia tidak bisa salah pilih. Bisa saja. Lalu? Ya, bertanggungjawab saja atas kesalahan yang diperbuat. Setelah itu, perbaiki dan teruslah melangkah maju lagi…
Kejahatan Tuh Sederhana Saja, kok!
Ya, kejahatan yang terjadi pada Gayus itu sederhana saja. Bukan persoalan yang besar. Namun, menjadi besar karena banyak uang besar disana he he… Jumlah uang menentukan kebesaran sebuah kejahatan, kira-kira demikianlah logikanya. Saya bukan ahli korupsi dan sejenisnya, jadi saya tidak mau membahas soal hukum disini.
Buat saya, pakai logika sederhana saja untuk belajar proses kejahatan tersebut.
Pasti Ada yang Meng-order
Ya, mana mungkin orang jujur takut dengan orang pajak. Kalau saya benar, buat apa saya nyogok. Kalo orang pajak minta uang, maka itu sebuah kemenangan buat saya sebagai wajib pajak. Nah, ketahuan deh. Hmmm… ketangkep basah deh… Buat saya sederhana saja, kalo saya benar, saya berani melawan apapun!
(termasuk membongkar kasus Kejahatan Hipnoterapis Cabul, yang tulisannya sebentar lagi saya posting di website ini. Walau banyak tekanan dari para Senior Hipnoterapis, saya maju terus aja. Bila kita benar, mengapa harus takut! Yok, buktikan semuanya di depan hukum… Tunggu bentar lagi ya, artikelnya). Lanjuuut…
Jadi, tidak mungkinlah kejahatan ini muncul jika laporan pajaknya benar. Karena tahu banget mau “dibenarkan”, maka dibuatlah Surat Penawaran Permohonan agar dibantu he he…
Pasti Ada yang Memberi
Mana ada doa yang langsung dikabulkan Tuhan? Walau katanya doa orang miskin itu manjur, namun belum ada contoh nyata seseorang berdoa tiba-tiba ditransfer uang miliaran ke rekeningnya he he… Sekaligus rumah mewah di Kelapa Gading, kecuali doa si Gayus he he… Artinya pasti ada yang memberi. Pasti bukan Tuhan, juga pasti bukan Setan. Yang pasti, dari manusia. Dari orang yang punya uang. Orang yang minta tolong agar pajaknya “dirapikan”. Sederhana sajalah…
Pasti Ada yang Menerima
Karena ada yang memberi, pasti ada juga yang menerima. Siapa yang salah? Gak tauk juga! Tidak ada yang salah, menurut hukum mereka. Hanya bisa jadi masalah, jika Gayus tidak mau menerima “doa” tadi. Jadi, harus ada yang “berani” menerima uang jasa merapikan laporan pajak tadi. Harus ada, itu hukumnya.
Belajar dari Sebuah Kejahatan
Yok, kita kembali ke tujuan awal tulisan ini. Sekali lagi ini bukan soal Gayus, soal Cirru, soal Pajak, soal Hukum, soal Penjara, soal Hukum, soal Kabur, soal Tenis he he… Ini soal diri. Ini soal bagaimana saya bisa belajar dan bertumbuh dari sebuah kejadian, yang mungkin menurut orang banyak, itu adalah sebuah kejahatan. Sesuatu yang harus dihindari. Karena menjijikan, karena haram, karena sampah. Silakan saja…
Namun, buat saya Gayus adalah Guru kehidupan. Banyak hal tertutup yang terbuka, banyak sistem macet yang terkuak, banyak manusia “suci” yang terhenyak, banyak aturan “ngawur” yang ketahuan, banyak permainan yang diketahui, banyak “penjahat baik” yang dipenjara, banyak jaksa “baik” yang ikut terpeleset, banyak polisi “sederhana” yang beneran jadi sederhana. Banyak hal yang dapat ditarik nafas hikmahnya. Sungguh, sangat banyak…
Ternyata, akupun pernah (baca sering) jadi Gayus…
Astaga, Gayus! Ternyata akupun pernah bahkan sering sekali jadi Anda. Aku pernah berbohong. Aku pernah menyuap pejabat pemerintah, walau itu hanya pembuat KTP. Atau, aku menyogok polisi di jalanan agar tidak ditilang. Aku ini ternyata pernah, bahkan sering juga jadi bajingan. Akupun sering keliru antara ngomong bangsa atau bangsat. Ah, akupun kotor. Tidak hanya engkau Gayus.
Bahkan, kalo mau jujur. Aku lebih kotor darimu. Hanya saja, kau tertangkap, aku tidak he he… Kau sial, aku belum. Kau dikorbankan, aku tidak. Karena aku dipecat dari kantorku hi hi… Sungguh, akupun pernah jadi Gayus. Bahkan, mungkin sampai sekarang masih ada tersimpan mental Gayus di dalam diriku. Aku harus sungguh hati-hati. Aku harus terus waspada, eling… Ampunilah aku ini ya Allah…
Kekeliruan adalah Sebuah Peluang Besar
Bila kita mau bertanggungjawab akan setiap perbuatan keliru yang pernah kita lakukan, maka hal itu akan jadi peluang. Ya, sebuah peluang yang sangat besar untuk menjadi Turning Point, Titik Balik, Putar Arah, Hitam ke Putih dalam kehidupan ini. Namun, bukan berarti masalah itu selesai. Masalah itu dipertanggungjawabkan agar selesai.
Kekeliruan adalah sebuah peluang. Sebuah kesempatan, sebuah momentum untuk perubahan. Siapa yang berani mengambil kesempatan ini, dialah yang akan jadi pemenang dalam kehidupan ini. Minimal untuk dirinya sendiri…
Akupun pernah mengalaminya, maka aku berani melanjutkan cerita ini.
Mandilah di Air Pancuran
Setelah tekad untuk balik arah tersebut diambil, setelah kekeliruan tersebut dipertanggungjawabkan, setelah pencanangan bahwa akulah yang bertanggungjawab atas semua ini, maka akan lebih mudah kita mandi ke air pancuran. Akan lebih mudah kotoran diri ini dicuci. Akan lebih gampang lepas daki di kulit tangan ini. Ambil pasir di pantai, gosoklah seluruh tubuh ini, lalu mandilah di ombak dengan kegembiraan. Yakinlah, Allah maha pemaaf dan maha pengampun.
Kubuang semua dunia.

Kubuang barang yang membuat pundakku berat.
Kelepas semua baju yang membuatku bangga.
Kukembalikan yang bukan namaku.
Biar aku tidak ada apa-apa.
Kusiram kepala ini dari mabuk dunia.
Lebih segar agar aku bisa terbangun.
Aku tabok pipiku agar aku sadar.
Hidup ini ada batas. Ada waktu. Ada umur.
Repotnya setiap hari semakin pendek.
Makin bernafas, makin sedikit.
Kusadari aku tersesat. Kusadari jalan ini salah.
Aku harus berhenti. Aku harus kembali.
Ke jalan awal. Walau itu titik mulai.
Namun lebih baik mulai lagi dari awal.
Dibandingkan keteruskan salah jalan ini.
Karena akhirnya hidup ini adalah perjalanan.
Terlalu banyak jalan yang bisa menyesatkan.
Terlalu banyak pilihan yang membingungkan.
Namun, saat aku sadari aku di jalan salah.
Aku punya peluang untuk pindah jalan.
Semoga pengalaman salah ini berhikmah.
Untuk orang yang berada di belakangku.
Agar tidak mengikutiku yang salah.
Banyak jalan yang lebih baik.
Banyak cara yang lebih putih.
Banyak kendaraan yang bersih.
Namun, ijinkan aku memilih berjalan kaki.
Agar aku bisa bermandikan peluh.
Dengan berpeluh, aku bisa bersyukur.
Bahwa Engkau masih cinta daku.
Engkau selalu maafkan aku.
Engkau sungguh maha pencinta.
Ijinkan aku pulang telanjang.
Ijinkan aku pulang telanjang..
Ijinkan aku pulang telanjang…
Dan…
Telanjanglah sebelum pulang…
Telanjanglah sebelum berpulang…